MILAD 69 PROVINSI RIAU

Soal 1 Juta Sarjana D4-S3 Menganggur

Prof Tadjuddin: Sarjana Datang Bawa Ijazah, Dunia Kerja  Mencari yang Terampil

Nasional Rabu, 19 Agustus 2026 - 10:29 WIB
Prof Tadjuddin: Sarjana Datang Bawa Ijazah, Dunia Kerja  Mencari yang Terampil

Ilustrasi oleh AI

RIAUEDUKASI.COM, YOGYAKARTA - Prof Tadjuddin Noer Effendi mengatakan, tingginya jumlah pengangguran dari lulusan perguruan tinggi tidak hanya disebabkan terbatasnya lapangan pekerjaaan. Ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja juga turut menjadi penyebab. 

"Dunia pendidikan banyak memberikan teori, sedangkan dunia kerja mencari orang yang sudah terampil. Pada umumnya sarjana itu datang bawa ijazah ke perusahaan, bukan bawa keterampilan," ujarnya dalam keterangan tertulis Humas UGM, Selasa (18/8/2026) dikutip dari Kompas.com. 

Prof Tadjuddin merupakan Guru Besar Fisipol UGM sekaligus pengamat ketenagakerjaan. 

Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Mei 2026, mencatat ada sebanyak 1.033.132 orang dengan latar belakang lulusan D4, S1, S2 dan S3 belum mendapatkan pekerjaan. 

BANNER SPMB SD BABUSSALAM

Dunia industri saat ini berkembang dengan pemanfaatan teknologi, termasuk munculnya artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, serta robotika. Menurut Tadjuddin, perkembangan dunia industri membuat kebutuhan terhadap tenaga kerja tidak lagi hanya didasarkan pada latar belakang pendidikan. 

Harus ada kemampuan dan keterampilan Kebutuhan tenaga kerja juga didasarkan pada kemampuan dan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi. Sementara keterampilan yang sesuai dengan perkembangan teknologi belum sepenuhnya diperoleh mahasiswa selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi. 

"Ijazah yang dimiliki belum cukup menjadi dasar bagi perusahaan untuk menerima lulusan apabila tidak disertai keterampilan. Jadi kalau sarjana hanya bawa ijazah mencari kerja itu kelihatannya sekarang sulit," ungkapnya. 

Di sisi lain, lanjut Tadjuddin, struktur ekonomi Indonesia juga belum cukup mampu dalam menciptakan lapangan pekerjaan yang berkualitas, terkhusus pada sektor industri. 

Industri padat karya yang selama ini menjadi salah satu penyerap tenaga kerja menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya bahan baku impor dan melemahnya daya beli masyarakat. Kondisi tersebut mendorong perusahaan melakukan efisiensi, termasuk mengurangi jumlah tenaga kerja. Kemudian berimbas pada meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK). 

Tadjuddin menilai program magang pemerintah merupakan langkah yang cukup baik untuk membantu lulusan memperoleh pengalaman dan keterampilan kerja. Namun, daya tampung program tersebut masih terlalu kecil dibandingkan jumlah pengangguran terdidik.

Perlu pusat pelatihan kerja modern 
Guru Besar Fisipol UGM ini mendorong pemerintah memperluas pusat pelatihan kerja modern yang berorientasi pada kebutuhan industri. 

"Seharusnya perlu pendirian pusat pelatihan yang dapat menjadi jalan lebih cepat untuk meningkatkan keterampilan lulusan, khususnya pada sarjana yang belum terserap pasar kerja," ujarnya. 

Pemerintah dan perguruan tinggi, lanjut Tadjuddin, perlu memperkuat pusat pelatihan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja. Program tersebut menyasar lulusan perguruan tinggi yang belum terserap dunia kerja agar memiliki keterampilan praktis yang dibutuhkan industri.  

Hal ini dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi pengangguran terdidik. "Kalau itu dapat terealisasi dengan baik, kemungkinan besar dalam dua atau lima tahun dapat menciptakan mungkin satu sampai dua juta penyerap pengangguran terdidik," pungkasnya.***

Editor : Zulkifli Ali